Jumat, 19 Desember 2014

Dharma

Rumah mu Yang Sesungguhnya

Bangunan  rumah mu itu bukanlah rumahmu yang sesungguhnya.
Itu adalah rumah yang kamu kira, rumahmu didunia.
Sementara rumahmu yang sesungguhnya, adalah kedamaian.
Sang Buddha mengajarkan kita untuk membangun rumah kita sendiri dengan cara melepas hingga kita mencapai kedamaian.

Menuju Samudra

Alian air, danau, dan sungai yang mengalir turun ke samudra, ketika mereka mencapai samudra, semuanya mempunyai warna biru yang sama, mempunyai rasa asin yang sama.
Sama halnya dengan manusia : Tidak masalah dari mana mereka berasal, ketik mereka mencapai arus Dhamma, semuanya adalah Dhamma yang Sama.


Gajah, Lembu Jantan, dan Kerbau

Melatih pikiran adalah sebuah kegiatan yang berguna. Kamu dapat melihat peristiwa ini bahkan dalam hewan pekerja, seperti gajah, lembu, dan kerbau. Sebelum kita dapat membuat mereka bekerja, kita harus melatih mereka terlebih dahulu. Hanya ketika mereka terlatih dengan baik, kita dapat menggunakan kekuatan mereka dan mempekerjakan mereka untuk berbagai tujuan. Kalian semua tentu mengetahui hal ini.
Pikiran yang terlatih dengan baik memiliki nilai berlipat kali lebih besar. Lihatlah pada Sang Buddha dan para siswa muliaNya. Mereka merubah status mereka dari orang biasa menjadi orang yang dimuliakan, dan dihargai semua orang. Mereka telah memberikan manfaat kepada kita dengan cara yang lebih luas daripada yang dapat kita temukan. Semua ini datang dari kenyataan bahwa mereka telah melatih pikiran mereka dengan baik.
Pikiran yang terlatih sangat berguna bagi setiap pekerjaan. Pikiran yang terlatih memungkinkan kita untuk melakukan pekerjaan dengan hati – hati. Pikiran tersebut membuat kita lebih bijaksana daripada menuruti emosi, dan memungkinkan kita untuk mengalami suatu kebahagiaan yang sesuai dengan lingkungan kita dalam kehidupan.
Dedaunan

Ketika kita duduk dihutan yang sunyi, dan tidak ada angin yang bertiup, maka dedaunan akan tetap tenang pada pohonnya. Ketika angin bertiup, dedaunan pun berguguran.
Pikiran sama seperti dedaunan ini. Ketika ia bersentuhan dengan sebuah objek, ia akan bergetar sesuai sifat alaminya. Semakin sedikit kamu mengetahui Dhamma, semakin besar getaran pikiranmu. Ketika pikiran merasakan kesenangan, maka ia mati dalam kesenangan. Ketika pikiran mersakan kesakitan, ia mati dalam kesakitan. Pikiran terus bergerak dalam cara seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar